20 December 2011 Tags: 0 comments

Agar anak mencintai ilmu



Assalamualaikum dan salam ziarah lagi...

Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu pada waktu kecil adalah seperti memahat batu, sedangkan perumpamaan mempelajari ilmu ketika dewasa adalah seperti menulis di atas air. [HR. ath-Thabrani dari Abu Darda' ra].
     
Dalam sejarah, tidak ditemukan suatu agama yang mendorong pemeluknya untuk memberikan pengajaran kepada anak-anak seperti Islam. Islam menjadikan seorang Muslim memiliki antusiasme yang sangat tinggi untuk belajar dan mengajar. Antusiasme inilah yang menjadikan mereka sangat isimewa sepanjang sejarahnya yang panjang. Apalagi bagi mereka, menuntut ilmu adalah ibadah yang paling utama, yang boleh dijadikan wasilah untuk mendekatkan diri kepada Alllah.
     
Masa kanak-kanak merupakan fasa yang paling subur untuk melakukan pembinaan keilmuan dan pemikiran. Pada masa ini daya tangkap dan daya serap otak mereka berada pada kemampuan maksimum; dada mereka masih kosong dan lebih mudah untuk menghafal terhadap apa yang mereka dengar. 

Abu Hurairah ra. meriwayatkan secara marfû', bahawa Rasulullah saw. bersabda (yang ertinya): Siapa yang mempelajari al-Quran ketika masih muda, maka al-Quran itu akan sebati dengan daging dan darahnya. Siapa yang mempelajarinya ketika dewasa, sedangkan ilmu itu akan lepas darinya dan tidak melekat pada dirinya, maka ia mendapatkan pahala dua kali. (HR al-Baihaqi, ad-Dailami, dan al-Hakim).
     
Agar para ibubapa dapat mengarahkan anak melangkah menuju ilmu, belajar, serta mencintai ilmu dan ulama, ada beberapa hal penting yang harus ditempuh:

1. Tanamkan bahwa menuntut ilmu adalah perintah Allah Swt.
    
Kecintaan anak kepada Allah, yang selayaknya sudah terlebih dulu ditanamkan, akan mendatangkan ketaatan pada perintah-Nya dan takut akan azabNya, termasuk dalam menuntut ilmu. Cinta dan takut kepada Allah akan memunculkan sikap konsisten dalam mencari ilmu tanpa bosan dan dihinggapi rasa putus asa.

2. Tanamkan bahwa al-Quran adalah sumber kebenaran.
     Al-Quran sebagai sumber kebenaran (QS al-Maidah [5]: 48) sejak awal harus disampaikan oleh ibubapa kepada anak. Semua yang benar menurut al-Quran itulah yang harus dan boleh dilakukan. Ini memerlukan teladan dari ibubapa. Dengan begitu, anak akan melihat realisasi al-Quran sebagai sumber kebenaran dalam setiap perilaku orangtuanya. Begitu pula ketika menilai suatu keburukan, semuanya dinilai dengan standard al-Quran. 
3. Ajarkan metode belajar yang betul menurut Islam.
     Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitab As-Syakhshiyah al-Islâmiyyah jilid 1, bahwa Islam mengajarkan metode belajar yang benar, iaitu: 

1. Mempelajari sesuatu dengan mendalam hingga dipahami apa yang dipelajari dengan benar. 


2. Meyakini ilmu yang sedang dipelajari hingga bisa dijadikan dasar untuk berbuat. 

3. Sesuatu yang dipelajari bersifat praktikal, bukan sekadar teori, hingga dapat menyelesaikan suatu masalah.
    
Dalam mempelajari alam semesta, misalnya, dikatakan secara teori bahwa bulan mengelilingi bumi. Untuk menjadikannya sebagai pemahaman yang mendalam haruslah anak diajak melihat fakta bulan, yang dari hari ke hari berubah bentuk dan besarnya. Dengan demikian, anak pun menjadi yakin bahwa perubahan tanggal setiap harinya adalah kerana peredaran bulan. Dengan begitu, ia dapat mengetahui bahwa menentukan tanggal satu Ramadhan, misalnya, adalah dengan melihat bulan. 

4. Memilihkan guru dan sekolah yang baik bagi anak.
Guru adalah cermin yang dilihat oleh anak sehingga akan membekas di dalam jiwa dan pikiran mereka. Guru adalah sumber pengambilan ilmu. Para Sahabat dan Salaf ash-Shâlih sangat serius di dalam memilih guru yang baik bagi anak-anak mereka. 
Ibnu Sina dalam kitabnya, As-Siyâsah, mengatakan, "Seyugianya seorang anak itu dididik oleh seorang guru yang mempunyai kecerdasan dan agama, piawai dalam membina akhlak, cekap dalam mengatur anak, jauh dari sifat ringan tangan dan dengki, dan tidak kasar di hadapan muridnya. "


     Imam Mawardi (dalam Nashîhah al-Mulûk hlm. 172) menegaskan urgensi memilih guru yang baik dengan mengatakan, "Wajib bersungguh-sungguh di dalam memilihkan guru dan pendidik bagi anak, seperti kesungguhan di dalam memilihkan ibu dan ibu susuan baginya, bahkan lebih dari itu. Seorang anak akan mengambil akhlak, gerak-gerik, adab dan kebiasaan dari gurunya melebihi yang diambil dari orangtuanya sendiri. "
     Begitupun memilihkan sekolah yang baik yang di dalamnya diajarkan hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama, apalagi yang merosak aqidah anak-anak Muslim. Ramai ibubapa memilih sekolah untuk anaknya sekadar agar anak dapat memperolehi ilmu dan prestasi yang bagus, tetapi lupa akan perkembangan kemantapan akidah dan akhlaknya. 
     Namun demikian, tentulah guru yang  pertama dan utama adalah ibubapanya, dan sekolah yang pertama dan utama adalah rumah tempat tinggalnya bersama ibubapa.
5. Mengasuh anak untuk memuliakan para ulama.
     Abu Umamah ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda (yang ertinya): Ada tiga manusia, tidak ada yang meremehkan mereka kecuali orang munafik. Mereka adalah orangtua, ulama, dan pemimpin yang adil . (HR ath-Thabrani).
     Ulama adalah pewaris para nabi. Memuliakan dan menghormati mereka, bersikap santun dan lembut di dalam bergaul dengan mereka, adalah di antara adab yang harus dibiasakan sejak kanak-kanak. Memuliakan ulama menjadikan anak akan memuliakan ilmu yang diterimanya, yang dengannya Allah menghidupkan hati seseorang. 

Abu Umamah ra. juga menuturkan bahawa Rasulullah saw. pernah bersabda (yang ertinya): Sesungguhnya Luqman berkata kepada puteranya, "Wahai anakku, engkau harus duduk bersama dengan ulama. Dengarkanlah perkataan para hukama', kerana sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan deras. " (HR ath-Thabrani).  
6. Membiasakan seluruh keluarga membaca dan menghafal ayat-ayat al-Quran dan Hadis Nabi saw.
     Dalam membina aqidah anak, mengajarkan al-Quran dan Hadis Nabi saw. adalah perkara yang utama dalam membentuk mentaliti anak. Keduanya merupakan sumber untuk menghidupkan ilmu yang akan menyinari dan menguatkan akal. Para Sahabat ra. sangat mengambil berat sekali menjinak anak-anak mereka dengan al-Quran. Anas bin Malik ra., setiap kali mengkhatamkan al-Quran, mengumpulkan isteri dan anak-anaknya, lalu berdoa untuk kebaikan mereka.  
      Pada masa Rasulullah saw. masih hidup, Ibnu Abbas ra. telah hafal al-Quran pada usia sepuluh tahun. Imam Syafii rahimahullâh telah hafal al-Quran pada usia tujuh tahun. Imam al-Bukhari mulai menghapal hadis ketika duduk dibangku madrasah dan mengarang kitab At-Târîkh pada usia 18 tahun.

7. Membuat perpustakaan rumah, sekalipun sederhana. 

     Mempelajari ilmu tak akan lepas dari kitab ataupun buku-buku sebagai media referensi yang senantiasa akan memenuhi tuntutan ilmu. Adanya perpustakaan rumah menjadi hal yang sangat penting untuk mengkondisikan anak-anak sentiasa dekat dengan ilmu dan bersahabat dengan kitab-kitab ilmu. 
     Imam asy-Syahid Hasan al-Banna dalam Risâlah-nya, Formula Paling Efektif dalam Mendidik Generasi Muda dengan Pendidikan Islam yang Murni, mengatakan, "Adalah sangat penting adanya perpustakaan di dalam rumah, sekalipun sederhana. Koleksi bukunya dipilihkan dari buku-buku sejarah Islam, biografi Salafus Solih, buku-buku akhlak, hikmah, kisah perjalanan para ulama ke berbagai negeri, kisah-kisah penaklukan berbagai negeri, dan semisalnya…."
8. Mengajak anak menghadiri majlis-majlis ilmu bersama orang dewasa.
    Nabi saw. pernah menceritakan bahwa beliau ketika masih kecil juga turut menghadiri majlis-majlis orang kaum bersama teman-temanku…. " (Diriwayatkan oleh Abu Ya'la dengan sanad sahih dalam Musnad-nya [2/157] dan oleh Ahmad [1/190]).
Dengan membawa anak-anak ke majlis orang dewasa, akalnya akan meningkat, jiwanya akan terdidik, semangat dan kecintaannya kepada ilmu akan semakin kuat.  
Wallâhu a'lam bi ash-shawâb
Sumbangan Artikle Oleh:
Rashidah Munir 

No Response to "Agar anak mencintai ilmu"

.

.